[FF] Past, Present, Future??? Ep.02

Di tengah bayangan Hyesung yang terus datang dalam pikiran Byeolhae, tiba-tiba suara bell dari arah pintu rumahnya disertai dengan suara teriakan yang sangat kencang.
April: “Bora-ya….. apa kau ada di rumah? Cepat buka pintunya!!!” Teriak April Kim.
Lalu dengan segera Byeolhae berlari menuju ke arah pintu rumahnya sebelum April menghancurkan tombol bell rumahnya.
Byeolhae: “Sabar dulu Kimchi… aku datang!!!”
Ya, Kimchi adalah nama panggilan yang diberikan Byeolhae kepada April. April yang memiliki nama belakang Kim kemudian dipanggil dengan sebutan Kimchi oleh Byeolhae, sementara April tidak mau kalah dengan menyebut nama Byeolhae sebagai Bora karena kakaknya selalu memanggilnya dengan sebutan Byeolra yang terdengar seperti Bora, bahkan April pun suka memanggilnya dengan sebutan Ubi Ungu.
Segera setelah pintu dibuka oleh Byeolhae, April melompat masuk seperti seorang kucing dan menyambar sofa di ruang tamu.

Byeolhae: “Apakah Sungyeol mengejarmu sampai kau harus terburu-buru seperti itu dan mencoba merusak bell rumahku?”
April: “Iya, Sungyeol mengejarku terus karena aku sudah mencuri hatinya.” Jawab April sambil terengah-engah. Dan sebuah pukulan kecil pun mendarat di kepalanya.
April: “Aw… sakit!!! Tolong cepat ambilkan aku minum, aku sangat haus sekali. Di luar udaranya panas sekali.”
Byeolhae: “Memangnya di rumahmu tidak ada air??” Tanya Byeolhae sambil membawakan segelas air dingin untuk April. April yang sudah sangat kehausan langsung menyambar gelas tersebut tanpa berkata sepatah kata pun. Byeolhae hanya diam sambil tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang memang selalu seria, lincah, dan aktif.
April: “Aku belum sempat pulang.” Jawabnya setelah gelas yang ada di denggamannya itu kosong.
April: “Ibu dan ayah hari ini pergi ke rumah paman dan akan menginap, jadi aku bebas bisa pulang jam berapa saja.”
Byeolhae: “Lalu, kenapa kau harus datang kemari dengan terburu-buru. Lagi pula, ini kan masih jam tiga, matahari masih punya banyak waktu untuk bersinar.”
April: “Kalau kau tidak mengirimkan sms kepadaku, aku tidak akan segera kemari.”
Byeolhae: “Jadi karena sms ku?? Ckckck…. Ini kan bukan hal yang urgent, jadi kenapa kau harus gawat seperti ini.”
April: “Baiklah, kalau begitu aku pulang saja. Percuma saja aku sudah buru-buru kemari sampai harus membatalkan acara kencanku dengan Sungyeol.” Ucap April ngambek.
Byeolhae: “Jinja? Apa kau akhirnya kembali ke sisi ku lagi?” Ucap Byeolhae sambil memeluk April.
April: “Ya! Kapan aku pernah meninggalkan mu?”
Byeolhae: “Habisnya, semenjak pacaran dengan Sungyeol, kau selalu meninggalkun dan Hoya.”
April: “Pabo. Walaupun nilai ujianmu semuanya bagus, tapi kau tetap saja bodoh.”
Byeolhae: “Maksudnya?” Tanya Byeolhae dengan heran.
April: “Pokoknya kau bodoh. Sudah, ayo ceritakan soal Hyesung oppa. Apa dia kembali ke Korea?”

Dengan tersipu malu, Byeolhae pun menceritakan tentang pertemuannya yang benar-benar singkat dengan Hyesung tadi siang.

Byeolhae: “Dan dia pun masih dengan manisnya memanggilku Byeolra..”
April: “Dasar Ubi Ungu!!! Apa kau masih mengaguminya seperti dulu?”
Byeolhae: “Kapan aku pernah mengaguminya? Aku mencintainya.”
April: “Aish…. cobalah kau sekarang pergi bercermin. Kau akan bisa melihat kalau wajahmu lebih mengelikan dari wajahku saat aku bersama Yeol.”
Dan sebuah kusion pun mendarat mulus di depan wajah April.
April: “Ya!!! Apakah kau bisa berhenti melempariku dengan bantal, atau memukul ku, atau mencubitiku!!!”
Byeolhae: “Maaf… Habisnya aku selalu gemas tiap kali melihatmu.”
April: “huufftt,,,, Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tidak akan sengaja membawa Hyesung oppa saat pentas seni weekend ini utuk kau pamerkan kepada Sunggyu oppa kan?”
Byeolhae: “Aigoo… Darimana kau dapat ide gila seperti itu??? Lagi pula, walaupun aku mau seperti itu, bukan hal mudah membawa Hyesung oppa pergi.”
April: “Berarti, kau masih belum punya pasangan untuk pergi ke acara pentas seni minggu ini? Kenapa kau tidak pergi bersama Hoya saja?” candanya.
Byeolhae: “Kenapa harus pergi bersama Hoya? Hoya bahkan tidak mengajakku untuk pergi bersamanya.”
April: “Jadi, jika Hoya mengajakmu untuk pergi bersama, kau akan pergi bersamanya?”
Byeolhae: “Tentu saja, kenapa tidak. Hoya adalah teman baikku, jadi tidak ada salahnya jika kami pergi bersama kan?”
April: “Aish… dasar kau bodoh.”
Byeolhae: “Ya! Kimchi! Kenapa kau selalu menyebutku bodoh?”
April: “Karna kau memang bodoh. Pantas saja sampai saat ini kau tidah lolos tes mengemudi dan mendapatkan ijin mengemudimu. Ckckck….”
Byeolhae: “Aku makin tak mengerti. Apa hubungannya pentas seni, kau, Sungyeol, Hoya, dan ijin mengemudiku yang selalu gagal?”
April: “Sudahlah, aku lapar, aku akan pulang dulu. Kau pikirkan saja baik-baik dan cari jawabannya sendiri. Kau boleh bertambah pintar, tapi kau tetap saja lugu. Bye~~~ Sampai jumpa besok pagi.”

Kemudian April pun berlalu meninggalkan Byeolhae yang masih kebingungan karena April terus saja mengatainya bodoh. Dan ketika ia masih berada dalam kebingungannya, tiba-tiba suara telponnya pun berbunyi dengan sangat keras.

Byeolhae: “Yeoboseyo.”
Minwoo: “Byeolra… Hari ini oppa akan pulang terlambat. Jadi kau pergi makan saja duluan. Jangan menunggu oppa pulang. Araseo??”
Byeolhae: “Ne oppa.”
Dan telponpun tiba-tiba terputus.
Byeolhae: “Aish… Pasti mereka sedang sibuk minum sekarang.” Gumam Byeolhae.

Keesokan harinya, ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh dan Byeolhae akan bersiap untuk pergi ke kampus, Byeohae pun mencium bau yang aneh dari arah dapurnya. Tidak biasanya ia mencium bau masakan yang sedap apa lagi di pagi hari seperti ini. Karna tidak mungkin kakaknya bangun pagi-pagi unyik memasak apa lagi setelah kemarin ia pulang telat, bahkan Byeolhae pun tidak tahu jam berapa kakaknya kembali ke rumah. Selain itu, memang kakaknya tidak pernah memasak di pagi hari karena mereka selalu makan roti untuk sarapan.
Karena penasaran. Akhirnya Byeolhae mengendap-endap menuju arah dapurnya untuk memastikan bau apakah gerangan yang membuatnya lapar di pagi hari. Dan ketika matanya tepat mamandang ke arah dapur, betapa terkejutnya ia melihat sesosok pria yang baru saja selesai memasak itu bukanlah kakaknya, melainkan Hyesung.

Hyesung: “Oh, Byeolra, kau rupanya. Kebetulan masakannya sudah siap. Mari makan dulu sebelum kau berangkat kuliah.”

Ucap Hyesung dengan senyum manis pada wajahnya yang bisa saja meluluhkan jamtung Byeolhae di pagi hari.
Byeolhae pun bergerak menuju arah meja makan tanpa berkata sedikitkun karna shock terapy yang menyambarnya di pagi buta. Dan ketika Ia baru saja duduk dan mengambil makanannya, tiba-tiba bell pintu pun berbunyi.

Hyesung: “Lanjutkan saja makan mu, biar oppa saja yang membukakan pintunya.”

Dan tak beberapa lama, Hyesung pun datang sambil membawa April bersamanya.

Hyesung: “Ayo April, oppa baru saja selesai memasak. Mari kita sarpan bersama-sama.”

Dengan terpaksa dan merasa segan, April pun mengambil tempat di sebelah Byeolhae. Sambil mengambil makanan, Ia pun membisikkan sesuatu kepada Byeolhae.

April: “Apa yang ia lakukan disini pagi-pagi seperti ini?”
Byeolhae: “Mwola!”

Dan Byeolhae pun memberanikan diri untuk memulai percakapan.
Byeolhae: “Heum… Oppa. Apa yang sebenarnya kau lakukan pagi-pagi seperti ini di rumahku?”
Hyesung: “Sepertinya aku masih terpengaruh dengan Jetlag, sehingga aku tidak bisa tidur dan memilih utuk memasak saja.”
April: “Tapi… Bukankah ini masih terlalu pagi untuk bertamu oppa?”
Byeolhae: “Bagaimana caranya oppa masuk? Apa pintunya tidak dikunci?”
Hyesung: “Jadi Minwoo tidak memberi tahu mu bahwa selama dua bulan aku tinggal di Korea, aku akan tinggal disini?”
Aprilpun yang sedang menelan makanannya menjadi tersedak karena mendengar ucapan Hyesung. Byeolhaepun dengan paniknya mengambilkan segelas air untuk April.
Hyesung: “Gwenchanayo April?”
April: “Ne. Gwencanayo oppa.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya.
Hyesung: “Ini, lebih baik baik kau minum lagi.” Hyesung pun memberikan segelas air untuk April.
April: “Terima kasih oppa.” Dengan segera April meminum air yang diberikan oleh Hyesung.
Byeolhae: “Oppa, apa yang oppa katakan tadi itu benar? Tapi kenapa Minwoo oppa tidak pernah sekalipun mengatakannya padaku?”
Hyesung: “Tentu saja itu benar. Soal Minwoo, aku tidak tahu. Mungkin dia lupa memberitahukan padamu. Bukankah dia sekarang sedang sibuk memproduksi sebuah album untuk rookie di perusahaannya. Heum…. Apa kau keberatan jika aku tinggal disini untuk beberapa waktu?”
Byeolhae: “Aniyo!!!! Tidak sama sekali. Oppa bisa tinggal selama yang oppa suka. Kebetulan kamar Appa dan Eomma kan sudah tidak digunakan lagi.” Jawab Byeolhae dengan senyum.
April: “Ya! Bora! Ayo cepat berangkat! Nanti kita bisa terlambat!” Ucap April sambil menarik tangan Byeolhae yang masih terbang ke langit karena mendengar kabar bahwa Hyesung akan tinggal di rumahnya.
April: “Oppa, terima kasih atas sarapannya. Annyeonghi gyoseoyo.!!!”
Byeolhae: “Bye oppa.” Ucap mereka berdua sambil berlalu meninggalkan Hyesung.

Selama di perjalanan menuju kampus sampai dengan saat jam pelajaran berakhir, Byeolhae selalu saja tersenyum. Hal ini membuat April menjadi risih karena semua teman-temannya termasuk Hoya dan Sungyeol terus saja menanyakan hal yang sama padanya berulang-ulang.
“Ada apa dengan Byeolhae? Dia tampak sangat ceria hari ini.”
Dan April pun yang enggan menjawab akan berkata.
“Lebih baik kau tanyakan sendiri pada orangnya.”

Dan ketika jam istirahat, ketika Byeolhae sedang asik mendengarkan Mp3 playernya di sebuah sudut taman kampus, tiba-tiba Ia dikejutkan dengan kedatangan seorang pria dengan tinggi sekitar 178cm, berkulit putih dan bermata sipit.

 


Kim Sunggyu yang merupakan seorang casannova di kampus tersebut. Dengan wajahnya yang manis dan tampan, serta suaranya yang indah ketika menyanyi, membuat ia menjadi salah satu pria terfavorite di kampus tersebut. Sayang, keindahan suaranya tidak menjamin keindahan hatinya. Saat berpacaran dengan Byeolhae, bisa-bisanya dia pergi dengan gadis lain.

Sunggyu: “Wah… Sepertinya hari ini kau terlihat senang sekali Byeolhae ssi. Apakah akhirnya kau bisa menemukan pengganti oppa?” Ucap Sunggyu angkuh.

Sebelum akhirnya Byeolhae sempat menjawab, tiba-tiba seseorang pria terdengar lebih dulu menjawab pertanyaan angkuh dari Sunggyu.
Hoya: “Hyung, apakah salah jika Byeolhae merasa bahagia dan itu bukan karena kau? Bukankah kalian sudah berpisah. Kenapa kau ingin mencampuri urusannya lagi?”
Sunggyu: “Ya! Berani-beraninya kau. Lihatlah dirimu. Kau bahkan tidak lebih tampan dan lebih tinggi dariku. Yang bisa kau lakukan hanya menari. Atas dasar apa kau berani-beraninya pada seniormu?? Aaaa…. jangan-jangan kau lah pacar baru Byeolhae. Wahhhh…. seleramu payah sekali Byeolhae ssi.”
Byeolhae: “Hentikan ucapanmu! Harusnya kau yang berkaca. Apa karena matamu terlalu sipit jadi kau tidak bisa melihat bahwa kau itu sangat buruk?? Ayo Hoya, lebih baik kita pergi dari sini.”

Byeolhae pun menarik Hoya dari teman tersebut sebelum terjadi pertengkaran yang lebih jauh lagi. Karena Byeolhae tahu, Hoya tidak pernah suka dengan Sunggyu yang selalu merasa dirinya pria paling tampang di kampus tersebut.
Hoya: “Kenapa kau menarikku pergi dari sana? Harusnya kau biarkan saja aku untuk menghajarnya.”
Byeolhae: “Sudah lah, jangan perdulikan dia lagi. Aku ingin makan ice cream. Ayo kita pergi ke cafe depan.” Ajak Byeolhae kepada Hoya.

Dan ketika akan masuk ke sebuah cafe ice cream. Byeolhae dikejutkan oleh seseorang yang memanggil namanya.
Hyesung: “Byeolra!!!!”
Panggil Hyesung sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Byeolhae dan Hoya. Hyesungpun segera menyebrang jalan dan mendekati Byeolhae. Byeolhae pun menyambutnya dengan senyum.

Byeolhae: “Oppa, apa yang kau lakukan disini? Apakah kau sendiri?”
Hyesung: “Kebetulan aku sedang lewat dan melihatmu. Kau mau kemana? Apakah kau sudah makan siang?”
Byeolhae: “Aku baru saja akan makan ice cream disini bersama Hoya. Oh iya oppa, kenalkan, ia temanku, namanya Hoya.”
Hoya: “Annyeonghaseyo hyung, cheonun Hoya ipnida.”
Hyesung: “Annyeonghaseyo, Hyesung ipnida, bangasupnida. Bagaimana kalau kita makan bersama?”
Byeolhae: “Bolehkah oppa? Boleh mengajak Hoya juga kan?”
Hyesung: “Tentu saja boleh. Apakah kau mau ikut bersama kami?”

Hoyapun yang melihat wajah Byeolhae yang begitu berbinar ketika menatap Hyesung menyadari bahwa Byeolhae memiliki perasaan terhadap Hyesung. Ia pun merasa tidak nyaman berada diantara mereka berdua.
Hoya: “Maafkan aku Hyung, Byeolhae ssi, aku lupa kalau aku ada janji dengan Sungyeol. Jadi aku tidak bisa ikut makan siang dengan kalian. Aku permisi dulu.”

Hoya pun berbohong dan memilih untuk segera pergi dari sana. Ia yang pada awalnya tidak memiliki janji dengan Sungyeol akhirnya menghubungi Sungyeol dan April. Sementara itu, Byeolhae pun pergi makan siang berdua dengan Hyesung. Hal yang pernah bisa dirasakannya selama ini karena dulu Ia tak pernah berani untuk dekat dengan Hyesung apa lagi duduk berdua untuk makan bersama. Tapi sekarang semua sudah berubah. Byeolhae sudah bertekad untuk memberanikan diri menjadi lebih dekat dengan Hyesung.

[FF] Past, Present, Future??? Ep.01

 

Hari begitu panas, dan matahari begitu menyengat. Tapi dari kejauhan terlihat seorang gadis sedang datang, dibonceng oleh seorang pria berwajah tampan, manis, dengan tinggi sekitar 175cm. Ketika sampai di depan sebuah rumah, betapa terkejutnya iya melihat beberapa mobil mewah parkir di depan rumah tersebut.

 

Hoya: “Byeolhae-ya, ada apa? Apa kau tidak akan masuk ke dalam rumah?”

Byeolhae: “Eh, tentu aku akan masuk. Terimakasih atas tumpangannya hari ini. Maaf, aku selalu merepotkanmu.”

Hoya: “Sama-sama, bukan masalah besar. Rumah kita kan searah.”

 

Byeolhae lalu memperhatikan rumah diseberang jalan dan kemudian melirik kearah jam tangannya.

 

Byeolhae: *sigh* “April pasti belum pulang.”

Hoya: “Hhahahaha… bukannya sudah biasa ya jika mereka akan pergi berdua setelah waktu pulang kuliah.”

Byeolhae: “Mereka benar-benar sedang dimabuk cinta.”

Hoya: “Sudahlah, berhenti menggerutu dan lekaslah masuk ke dalam rumah. Nanti Minwoo hyung bisa memarahiku jika kau tak pulang tepat waktu.” Ucap Hoya dengan nada bercanda.

Byeolhae: “Hari ini dia tidak akan mempedulikanku.” Jawab Byeolhae sambil menunjuk mobil-mobil yang tengah parkir di depan rumahnya.

Hoya: “Ah~~~ Para hyung itu sedang datang rupanya.”

Byeolhae: “Sudahlah, aku akan segera masuk. Sekali lagi, terima kasih Hoya ssi. Sampai jumpa besok di kampus ya. Hati-hati di jalan.”

Hoya: “Yup, sampai jumpa besok. Bye~~~”

 

Terdengar suara motor Hoya yang mulai semakin sayup dan menghilang di kejauhan. Byeolhae pun membalikan badannya dan melangkah dengan malasnya menuju ke dalam rumah.

 

Byeolhae: “Heuh~~ Pastilah diriku akan jadi bahan ledekan mereka lagi.” Ucapnya dalam hati.

 

Dengan hati-hati iya membuka pintu dan melangkah masuk kedalam rumah seperti seorang pencuri, berharap agar kakaknya, Lee Minwoo, beserta teman-temannya tidak menyadari kedatangannya. Namun sayangnya, seseorang di dalam rumah lebih dahulu menyapanya.

 

Dongwan: “Ah, Byeolhae-ya, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau mengendap-endap di rumahmu sendiri?”

Byeolhae: “Annyeonghaseyo Dongwan oppa.” Sapa Byeolhae dengan malu-malu. Kemudian ia dengan terpaksa melangkah ke arah para pria beumur 30 tahunan itu berkumpul. Sambil menunduk iya menyapa mereka satu per satu.

Byeolhae: “Annyeonghaseyo Eric oppa. Annyeonghaseyo Andy oppa. Annyeonghaseyo Junjin oppa. Annyeonghaseyo…..”

 

Tiba-tiba suara Byeolhae pun terhenti ketika melihat sesosok pria berkulit putih, dengan tinggi 180cm tersebut tersenyum kearahnya. Namun ia akhirnya segera tersadar dan melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat tertunda.

 

Byeolhae: “Annyeonghaseo Hyesung oppa.”

Hyesung: “Annyeong Byeolra. Sudah lama kita tak bertemu. Kau semakin tinggi dan cantik saja.”

Byeolhae pun menjadi tersipu mendengar ucapan Hyesung.

 

Eric: “Ya~ Hyesung-ah, apa kau tidak melihat bagaimana expresi wajah Minwoo ketika kau mengatakan bahwa Byeolhae semakin tinggi? Hahahaha…”

Minwoo: “Ya! Apakah ada yang salah dengan ku?” Jawab Minwoo protes.

Junjin: “Tentu saja ada hyung. Kau pendek, sementara adikmu tinggi, disitulah terletak kesalahnnya.”

Semuapun sontak tertawa mendengar ledekan Junjin.

 

Minwoo merupakan member terpendek di gank “Shinhwa” tersebut. Untuk ukuran seorang lelaki, Minwoo termasuk pria pendek karena tingginya tidak bisa mencapai 175cm. Sementara adiknya, Byeolhae memiliki tinggi badan 170cm. Sebenarnya kedua orang tua mereka bertubuh tinggi. Namun sayang, Minwoo yang seharusnya juga bisa tumbuh menjadi pria yang tinggi mengalami kecelakaan pada tulang belakannya ketika remaja yang menyebabkan pertumbuhannya menjadi terhenti.

 

Andy: “Hyung, sudah tertawanya, mari kita segera pergi, atau kita akan terlambat sampai di tempat acara Tony hyung.”

Minwoo: “Baiklah, mari kita pergi! Byeolra~ tolong bereskan meja ini ya.”

Byeolhae: “Kalian akan pergi?”

Junjin: “Ne, kami akan pergi ke acara pernikahannya Tony hyung.”

Byeolhae: “Ah…. Baiklah. Tolong sampaikan ucapan selamatku untuknya.”

 

Kemudian keenam pria itupun pergi begitu saja meninggalkan Byeolhae dengan segala bekas makanan dan minuman bertebaran di meja. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir ini Byeolhae kesal dengan kepergian kakak dan teman-temannya itu. Biasanya dia akan merasa sangat senang jika gank tersebut bubar, karena jika mereka bersama-sama, seluruh kegilaan mereka akan keluar dan sulit untuk terkendalikan. Dan pada akhirnya, pasti Byeolhae akan menjadi salah satu korban kegilaan mereka. Jika tidak disindir, maka byeolhae akan terus dijahili.

Untuk kali ini Byeolhae bukan kesal karena dijahili, ataupun karena mereka menyisakan meja kotor yang harus dirapikan olehnya. Tapi karena Hyesung yang ikut pergi bersama mereka. Hyesung yang sudah empat tahun tak pernah dijumpainya. Hyesung yang pernah menjadi ‘rahasia’-nya. Hyesung yang selalu memanggilnya dengan sebutan Byeolra. Hyesung yang dikaguminya lebih dari kakaknya. Hyesung yang selalu diimpikan sebagai kekasihnya. Hyesung yang empat tahun lalu tiba-tiba pergi kembali ke Amerika. Dan ketika Byeolhae sudah bisa kembali ke dunia nyata dan melupakan pangeran impiannya tersebut, tiba-tiba kini ia kembali hadir di depan matanya.

Lalu dengan langkah gontai dan bingung, ia pun masuk dan melemparkan tubuhnya di atas kasur. Ia kemudian memejamkan matanya, mengingat kembali kenangan empat tahun lalu dimana ia selalu tersipu malu dan menyembunyikan perasaannya kepada sabahat kakaknya tersebut. Hyesung yang sampai dengan empat tahun lalu merupakan pangeran impian Byeolhae yang tampan, kini hadir dengan wajah yang lebih tampan lagi. Iya pun bergegas menuju loteng dan mencari sebuah kardus berwarna pink, yang penuh dengan buku diary yang masih terkunci. Buku diary yang penuh dengan tulisan dan foto-foto  akan Hyesung di dalamnya, yang tak pernah bisa tersentuh oleh orang lain selain dirinya dan April, karena ia tak pernah mau orang lain tahu bahwa dia sangat menyukai Hyesung. Bahkan sepertinya kakaknya sendiri pun yak mengetahui bahwa adiknya begitu mengagumi sahabatnya. Byeolhae tidak mau jika Hyesung mengetahui perasaannya dan kemuadian menjauh darinya.

Di dalam pikiran Byeolhae saat ini, semua memori akan Hyesung yang telah lama ia kubur pun kembali lagi. Perasaan suka itu muncul lagi. Empat tahun lalu, ketika ia berumur 17 tahun, ketika dimana iya masih menjadi seorang gadis yang pemalu, tidah tahu style, menggunakan kaca mata serta kawat gigi. Gadis yang selalu tinggal di rumah, berteman dengan April Kim yang sudah menjadi sahabatnya dari sekolah dasar, dan selalu bermain dengan anjing peliharaan Eric atau anjing peliharaan Dongwan. Namun sekarang dia sudah berumur 21 tahun dan sebentar lagi akan menginjak 22 tahun, umur yang pantas bagi seorang gadis untuk memiliki kekasih. Ia pun sudah tumbuh menjadi gadis yang mempesona, dengan rambut panjang yang ikal, dan pandai bergaul. Ia juga menjadi salah satu penari terbaik di kampusnya. Ia bukanlah seorang gadis pemalu lagi, Ia telah menemukan jati dirinya. Dan ia pun memutuskan untuk membangkitkan keberaniannya, untuk membuat Hyesung menyadari akan perasaannya.

Kemudian Byeolhae pun mengambil handphonenya dan mengetik sebuah pesan singkat.

 

“To: April Kimchi”

“Nae wangja is back. Hyesung oppa ku telah kembali :)”