A Friend’s Love (chapt. I)

Mutek           : Mel

Hankyung   : Hans

Stary             : Ze

Leeteuk        : Dennis

# # # #

“Nggaaaaaaa!!!!!!”

Mel teriak kenceng banget dari kamarnya. Mama yang lagi buat sarapan dibawah sampe kaget dibuatnya.

“Mel!! Kamu kenapa teriak-teriak, Nak?”

Mamanya tergopoh-gopoh mendatangi Mel kekamarnya. Sementara anak gadisnya itu cuma masang muka memelas sambil satu tangannya masih memegang jam beker.

“Mama…. Aku terlambat sekolah, nih.”

“Ya ampun! Mama bilang juga apa, Nak. Kamu kalo nonton DVD jangan sampai larut. Sekarang jadi terlambat kan?”

“Hiks… Hiks… Mama, ih. Bukannya bantuin aku malah ngomelin aku.”

“Mama ngga ngomel, Sayang. Mama kan ngasih tauin yang bener.”

“Aduuuhh… Gimana dong ini, Ma? Setengah jam lagi aku masuk kelas.”

“Loh? Mama kira kamu sudah terlambat. Ya sudah, kamu siap-siap, dong!”

Sekarang giliran Mamanya yang panik. Mama menarik selimut Mel dan menarik Mel untuk masuk kekamar mandi.

“Sekarang kamu cepet mandi. Biar Mama masukin sarapan kamu kekotak makanan. Nanti sampai disekolah baru dimakan.”

Mel kali ini menuruti Mamanya tanpa banyak kata. Ia secepat kilat masuk kamar mandi. Ia ngga ingin protes apa-apa. Karena hari ini dia ada pelajaran gawat dengan guru yang killer.

Tali sepatu sudah diikatnya. Mel kemudian menuju dapur untuk berpamitan.

“Pelan-pelan, Nak. Nanti jatuh. Kotak makan kamu sudah Mama masukin tas.”

Mamanya amat menyayangi Mel. Ngga pernah absen membuatkan Mel sarapan. Selalu mengingatkan Mel agar pelan-pelan. Kalo naik angkot harus hati-hati. Jangan jajan sembarangan. Pokoknya protektif banget sama Mel. Sampai akhirnya Mel jadi ngerasa terbiasa. Mel memang sudah kelas 2 SMA, tapi perhatian yang Mamanya berikan, membuat Mel masih terlihat seperti anak yang baru mau masuk SMP.

“Iya, Ma. Tapi masalahnya waktuku tinggal lima belas menit kurang. Ngga tau deh, bakal sampe sekolah atau ngga secepet itu.”

“Kamu juga sih, bandel.”

“Tuh, Mama pasti mau mulai lagi deh ceramahnya. Ya udah ah, aku berangkat dulu. Dah Mama…”

Setelah mencium tangan dan kening Mamanya, Mel bergegas melaju kepintu depan. Langkahnya bener-bener kayak dikejer setan. Kuda pacuan kalah, kali. Sedikit-sedikit Mel berlari, berharap waktu berhenti sebentar saja. Paling ngga sampai dia sampai didepan gerbang sekolahnya.

Untungnya pagi ini suasana jalanan agak sepi. Mungkin karena cuacanya mendung. Sehingga masih banyak orang yang lebih memilih bergelung dibalik selimutnya.

# # # #

“Pak!”

Mel datang tepat ketika satpam baru hendak menarik gerbangnya. Satpam itu kaget melihat Mel datang dengan kondisi basah kuyup karena keringat. Minus make-up pula.

“Kamu berantakan banget. Kenapa sampai basah-basahan begini?”

“Abis nyebur, Pak.”

“Nyebur? Nyebur dimana?”

“Di empang tetangga. Makasih ya, Pak.”

Mel meninggalkan satpam yang masih menatap bingung padanya. Langkahnya tidak juga memelan. Semakin dekat dengan kelas, jantungnya malah semakin kencang. Ingin rasanya ia berbalik pulang sehingga Mel ngga perlu menghadapi guru sinting yang doyan menghukum muridnya yang telat untuk nongkrong di WC sekolah sampai jam pulang. Tinggal satu belokan lagi, jalan lurus sedikit, maka sampailah ia dikelasnya. Mel melirik jam tangannya. Setengah delapan tepat. Ia berharap semoga kali ini gurunya datang lebih lambat darinya. Walaupun satu menit.

Ketika Mel akan berbelok, karena masih terpaku pada jam tangannya, Mel jadinya ngga melihat jalan. Dan alhasil, BRUKK!!

“Awww…”

Mel menggosok-gosok sikunya. Ia meringis. Rok sekolahnya hampir saja tersingkap. Mel buru-buru melihat siapa yang menabraknya—atau siapa yang ditabraknya. Seorang cowok dengan topi kupluk putih dikepalanya. Sedang menepuk-nepukkan kedua tangannya yang belepotan debu dilantai. Ia kemudian bangun dan menepuk-nepuk pantat celananya. Wajahnya baru sekali Mel lihat. Terlalu dewasa kalo mau dibilang junior Mel. Jadi, Mel berasumsi dia pasti senior Mel. Dia memang ngga kenal semua angkatannya, tapi wajah cowok ini terlalu asing baginya. Ngga mungkin dia teman seangkatan Mel.

“Sori, Kak.”

Kata Mel setelah bangkit dan membersihkan roknya. Cowok itu kemudian memandang Mel. Ya Tuhan! Ngga tau harus gimana melukiskan perasaan Mel ngeliat muka cowok itu. Ekspresinya datar. Ngga menampakkan amarah sedikitpun. Malah yang bikin kaget, cowok itu tersenyum dan menampakkan dua buah lesung pipi yang membuatnya tampak sangat ramah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s